BANDAR LAMPUNG — Dompet Dhuafa Lampung menerima apresiasi dan penghargaan langsung dari Pemerintah Provinsi Lampung atas kontribusinya sebagai organisasi non-pemerintah dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting di wilayah tersebut.
Penghargaan itu diberikan dalam Rapat Koordinasi Aksi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (PPPS) yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Lampung pada Kamis, 30 September 2026, di Gedung Pusiban.
Wagub Lampung Tegaskan Pentingnya Pencegahan Stunting
Membuka acara tersebut, Wakil Gubernur Provinsi Lampung memberikan arahan dan menegaskan bahwa stunting menjadi salah satu penyakit yang menyumbang ketidakproduktifan manusia dalam menyambut Indonesia Emas, sehingga harus diawali dengan langkah pencegahan sejak dini.
Acara strategis ini turut dihadiri sejumlah elemen kunci, mulai dari Ketua DPRD, Kapolda, Pangdam, Ketua Bappeda Provinsi Lampung, perwakilan kabupaten dan kota se-Lampung, hingga beragam organisasi profesi dan non-pemerintah. Momentum ini dipuncaki dengan sesi penandatanganan komitmen bersama aksi konvergensi pencegahan stunting Provinsi Lampung untuk tahun 2027.
Pos Gizi Dompet Dhuafa Jadi Praktik Baik Pengentasan Gizi Buruk
Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Lampung Nandrianto Suparno hadir memaparkan praktik baik pengentasan gizi buruk melalui Program Pos Gizi. Dompet Dhuafa berharap pengalaman lapangan yang dibagikan dapat memberikan wawasan baru dan menjadi referensi aplikatif bagi seluruh tamu undangan lintas instansi yang hadir.
Merespons angka stunting nasional sebesar 19,8 persen, Pos Gizi Dompet Dhuafa menggunakan pendekatan Adaptive Positive Deviance (PD), yakni mengajak masyarakat meniru perilaku positif keluarga di komunitasnya sendiri untuk mencegah malnutrisi.
Selama siklus 90 hari, Pos Gizi tidak hanya mendistribusikan Pemberian Makanan Tambahan (PMT), tetapi juga mengedukasi empat pilar utama, yaitu:
- Praktik pemberian makan
- Pengasuhan anak
- Kebersihan lingkungan
- Akses pelayanan kesehatan
Empat Inovasi Utama Topang Keberhasilan Program
Keberhasilan Pos Gizi ditopang oleh empat inovasi utama, yakni kolaborasi lintas sektor (community-based), replikasi kebiasaan baik warga (behavior change), pengukuran berbasis hasil seperti kenaikan berat badan (performance-based), serta akses gizi lewat pangan lokal (improving access to healthy food).
Menu yang disajikan dirancang memenuhi standar WHO, yakni 150–220 kalori per kilogram berat badan per hari. Menu bervariasi ini dipraktikkan selama enam hari pertama, sehingga orang tua dapat dengan mudah menduplikasinya secara mandiri di rumah pada hari-hari berikutnya.
Capaian Program Sepanjang 2023–2025
Sepanjang tahun 2023 hingga 2025, inisiatif ini sukses menjangkau 3.807 penerima manfaat, dengan hasil yang terukur:
- 82 persen balita mengalami kenaikan berat badan (200–600 gram)
- 49 persen status gizi (BB/U) membaik
- Skor perilaku pola asuh keluarga meningkat dari 60 persen menjadi 84 persen
Tantangan di Lapangan Masih Nyata
Meski demikian, tantangan di lapangan masih nyata. Hasil skrining menunjukkan 84 persen keluarga masih memiliki kebiasaan merokok yang menghambat penyerapan gizi anak. Selain itu, cakupan imunisasi dasar di kelompok sasaran baru mencapai 78 persen.
Ditemukan pula 54 persen anak berisiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan 18 persen berisiko tuberkulosis, sehingga perlu dirujuk ke fasilitas medis terlebih dahulu agar intervensi gizi dapat bekerja maksimal.
Percepatan penurunan stunting dinilai sebagai kerja kolektif jangka panjang. Dompet Dhuafa meyakini bahwa Pos Gizi Positive Deviance merupakan gerakan lokal yang dapat melahirkan perubahan nasional, dari dapur ibu hingga masa depan anak Indonesia.




